TESTIMONIAL PALSU
29 Februari 2008

Testimonial adalah komentar, saran, atau opini yang diberikan oleh seseorang terhadap sesuatu (orang, produk, perusahaan, organisasi, dll) dari sudut pandangnya masing-masing dan biasanya bernada memuji.
Sebagai contoh umum untuk testimonial ini bisa kita jumpai di situs friendster. Seorang member friendster dapat memberikan testimoni kepada member lainnya.
Di dunia bisnis, testimonial biasanya digunakan sebagai salah satu strategi dalam memasarkan produk, dengan tujuan untuk meyakinkan atau mempengaruhi calon konsumen (pelanggan). Secara psikologis, kita akan tertarik dengan suatu barang apabila ada orang lain yang mengatakan bahwa barang tersebut bagus.
Testimonial juga banyak kita jumpai di situs-situs afiliasi, yang biasanya menampilkan testimonial secara mencolok, bahkan terkesan dibuat-buat (rekayasa). Dan biasanya testimonialnya diisi oleh perorangan, tidak mewakili organisasi atau perusahaan, karena memang konsumen atau anggotanya biasanya bertindak selaku pribadi (perorangan).
Mungkin kita tidak sadar, bahwa sebenarnya testimoni-testimoni yang kita baca itu diantaranya ada yang palsu atau rekayasa, dengan kata lain testimoni buatan sendiri yang dibuat seakan-akan testimoni dari orang atau pihak lain. Testimoni seperti ini sama saja artinya dengan memuji diri sendiri.
Bagaimana membedakan antara testimoni yang asli dengan yang palsu? Untuk situs afiliasi memang susah membedakannya, karena testimoni di situs afiliasi ini data yang memberikan testimoni tidak harus ditulis secara lengkap (untuk menjaga privasi), cukup dengan nama dan email yang biasanya disamarkan (dipangkas beberapa digit).
Beda lagi dengan situs bisnis (situs perusahaan rental komputer misalnya), dalam hal ini situs perusahaan yang klien atau customer-nya merupakan sebuah perusahaan juga, kita dapat membedakan apakah testimonialnya asli atau palsu. Caranya, perhatikan baik-baik apakah testimoninya dilengkapi dengan data nama perusahaan pemberi testimoni atau tidak. Apabila tidak ada, atau hanya mencantumkan nama orangnya saja, bisa dipastikan testimonial tersebut PALSU.
Kalau untuk testimonial palsu, puluhan bahkan ratusan juga bisa dibikin. Tinggal ketik, ngarang yang baik-baik, bla bla bla …(paling bengkak jari). Kemudian cantumkan nama orangnya, ngarang aja, kalau kesulitan nyari nama, masukin aja nama-nama teman, saudara atau tetangga, misalnya saja: Anto, Anti, Toto, Titi, dan lain sebagainya. Sebagai contoh:
”Saya sangat puas dengan produk anda, produk anda mak nyos sekali ….”
<< Titi Ratu Testi >>
Kalau demikian, kenapa tidak membuat saja testimonial palsu yang mencantumkan data lengkap nama perusahaannya? Perusahaan yang sudah eksis pasti tidak akan berani dan gegabah untuk melakukan ini, karena tidak mau ambil resiko kena komplen atau bahkan tuntutan.
Jadi, untuk memastikan kalau sebuah testimoni itu asli atau tidaknya, dilihat dari data pemberi testimoni tersebut, apakah data nama perusahaannya dicantumkan atau tidak. Kalau yang tidak ada itu nama orangnya tidak masalah, karena nama perusahaan sudah cukup untuk menjadikan kalau sebuah testimoni tersebut otentik.
Seperti halnya testimonial di situs kami, yang kesemua testimoninya dilengkapi dengan nama perusahaan pemberi testimoni. Dan memang disana tidak disebutkan nama orangnya, karena untuk menjaga privasi orang tersebut dan juga untuk merahasiakannya dari rival kami, hehehe.
Mulai sekarang, jangan langsung percaya dengan sebuah testimoni.
Posted by: RH ProRent - Rajanya Sewa Komputer
Entry Filed under: Artikel. .
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Domba Garut! | 10 Maret 2008 at 6:37 pm
Memang - testimonial yang seperti itu ada, dan mungkin banyak ragamnya..dalam dunia internet yang serba anonymous - itu lumrah terjadi. Terlepas dari itu semua pengalaman-lah yang menjadi “jangkar” yang kuat akan kesan/kesaksian yang diberikan - sisanya itu (fake testimonial) adalah bad advertising
2.
rajarental | 10 Maret 2008 at 9:10 pm
Betul sekali, ada, banyak dan lumrah karena anonymous-nya internet.
Namun kata lumrah tidak berlaku untuk sebuah testimonial palsu pada situs perusahaan yang sudah eksis, cocok sekali kalau yang begini ini disebut dengan bad advertising
3.
My-Indonesia | 13 Maret 2008 at 10:29 pm
Pantesan bagus2 testimoni yang pernah saya liat di beberapa web.Tapi gak apa2 namanya juga usaha:)